Ada cerita yang saya baca dari sebuah buku. Saya lupa bukunya apa. Tolong ingatkan saya ya bagi yang tahu judulnya, hehe! Cerita ini selalu mengingatkan saya pada saat saya harus mengambil keputusan dalam bersikap.
Pada suatu hari seorang guru sedang berjalan-jalan dengan muridnya. Saat itu mereka melihat kejadian unik. Mereka melihat seekor singa dengan segenggam wortel di mulutnya. Tentu saja ini aneh karena singa adalah hewan pemakan daging. Mereka mengikuti singa itu dan akhirnya mereka melihat sesuatu yang lebih mengejutkan lagi. Ternyata singa ini membawakan wortel-wortel tadi untuk seekor anak kelinci yang tidak punya induk. Kedua orang ini tersenyum. Sang guru berkata kepada muridnya, " Inilah keajaiban Tuhan dan alam semesta yang diciptakannya." Ternyata si murid sangat terinspirasi dengan cerita ini dan menrapkannya langsung dalam hidupnya. Sejak itu dia tidak mau bekerja dan hanya duduk2 saja di rumahnya. Beberapa hari kemudian dia kehabisan uang untuk makan dan mulai kelaparan. Esoknya saat sang guru berkunjung tentu saja dia kaget dengan kondisi si murid dan menanyakan sebabnya. Si murid lantas bercerita tentang keadaannya dan latar belakang pemikirannya. Sang guru tersenyum dan berkata, "Muridku kejadian luar biasa yang kita lihat tempo hari justru malah merusak dirimu. Seharusnya kamu meneladan sang singa, bukannya malah meniru anak kelincinya..."
Begitulah... Banyak orang yang salah dalam mengambil sikap mengalami sesuatu atau mempelajari sesuatu. Kita langsung aja ke beberapa hal yang bisa kita pelajari.
Kesalahpahaman 3: Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...) seminggu. Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.
Ini bukan berarti bahwa kita lebih baik tidak melakukan apa-apa sampai kita tahu cara terbaik melakukannya. Contoh: Lebih baik tidak banyak-banyak presentasi dulu sampai kita jadi benar-benar jago presentasi. Ini sih namanya mencari pembenaran. Mestinya kita memakai kesalahpahaman yang kedua.
Kesalahpahaman 2: Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan. Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.
Contoh lain yang lebih lucu:
Kesalahpahaman 4: Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan. Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi di saat lain andalah yang membuat aturan itu.
Ini juga bukan berarti kita bisa melenceng dari sistem. Jangan jadikan ini alasan untuk 'aneh-aneh'. Ini juga bukan berarti kita boleh melanggar ajaran agama maupun melanggar hukum dan undang-undang.
Dan yang paling 'menggemaskan':
Kesalahpahaman 5: Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses. Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantu keberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.
Banyak orang menerapkan ini secara aneh. Jangan pernah berpikir untuk menjadikan ini alasan untuk selalu meminta bantuan ke upline Anda. Ini namanya terbalik. Bantuan dari upline yang paling penting adalah arahan dan bimbingan. Biasanya berupa konsultasi. Bukan bantuan langsung semacam ini. Banyak orang justru melakuan dengan terbalik. Contoh: Selalu menuntut uplinenya untuk bantuin kerja seperti presentasi, follow up, tapi saat di konsultasi diarahkan datang ke pertemuan, Plan B dll sama sekali tidak direspons. Ini menghalalkan segala cara untuk kesenangan pribadi. Kalau enak dan menguntungkan mau, kalau diminta bayar harganya tidak mau.
Jika dikombinasikan dengan sikap menuntut pengakuan dan penghargaan (lihat kesalahpahaman 5 di atas) bisa lebih dahsyat lagi. Kerja ogah, tapi jika tim sukses langsung ingin diakui bahwa itu hasil kerja kita. Wah, ini luar biasa. Kombinasi keduanya lebih mematikan daripada Messi-Eto'o atau Gerrard-Torres, apalagi Pamungkas-Sudarsono. Bedanya duet mereka mengancam lawan, sedangkan duet dua sikap tadi mengancam masa depan kita sendiri...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar